OPINI

Jangan Mau Dikalahkan oleh Waktu

OPINI
Oleh: Diana Mulawarmaningsih, S.Ag.*)
 Senin, Tanggal 23-07-2018, jam 01:28:18
Diana Mulawarmaningsih

ADA yang berbeda dengan aktivitas guru di SMA Negeri 2 Katingan Hilir tempat penulis bertugas pada bulan Ramadan tahun ini. Beberapa guru sibuk di mejanya masing-masing, ada yang melengkapi berkas kenaikan pangkat, ada yang mengerjakan administrasi pendidikan, dan ada yang sudah menyiapkan bahan untuk mengisi E-raport semester dua yang sebentar lagi akan berakhir.

Memang berbeda dengan bulan Ramadan pada tahun sebelumnya yang memberikan liburan sepenuhnya bagi guru dan siswa selama sebulan penuh. Tahun ini kepala sekolah membuat kebijakan bahwa selama Ramadan, guru diminta untuk hadir ke sekolah untuk menyelesaikan tugas admnistrasi pembelajaran. Meski awalnya agak kurang nyaman, tapi ternyata pada akhirnya justru merasa senang, karena sekarang administrasi yang beberapa saat lalu sempat terbengkalai sekarang sudah selesai dikerjakan.

Bulan Ramadan, bagi umat muslim bukan berarti harus bermalas-malasan di rumah, beraktivitas yang bermanfaat ternyata lebih menyenangkan. Selama libur dari aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, tentunya membuat Bapak/Ibu guru memiliki waktu yang lebih santai. Alangkah baiknya jika sambil bersantai bisa diisi dengan kegiatan yang tetap mengasah kompetensi sebagai pendidik, misalnya kegiatan menulis.

Beberapa waktu yang lalu di Harian Kalteng Pos  (edisi Selasa, 2  dan 3 April 2018, dengan judul “Susahnya Mengajak Guru Menulis”), penulis pernah menyampaikan saat ini kegiatan menulis yang dilakukan oleh guru di wilayah Kalimantan Tengah masih kalah jauh dibandingkan dengan daerah di Jawa.

Dan berdasarkan apa yang penulis tangkap dari beberapa guru (yang penulis dapati saat mengisi diklat menulis maupun saat melaksanakan road show literasi ke beberapa sekolah di wilayah Kabupaten Katingan dan Palangka Raya melalui Kanal Pelatihan SAGUSAKU IGI) kendala terbanyak yang dikemukakan guru saat diajak menulis  adalah tidak punya cukup waktu, dan sibuk dengan kegiatan KBM.

Menyimak hal tersebut, penulis masih memiliki harapan, sesungguhnya para guru tersebut bukan tidak mampu menulis tapi hanya keterbatasan waktu saja. Jika demikian, saat seperti sekaranglah seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan menulis Bapak/Ibu Guru. Jangan mau dikalahkan oleh waktu, kitalah yang seharusnya yang berkuasa mengendalikan waktu. Karena semua orang memiliki waktu yang sama sehari 24 jam bukan?

Guru dan kegiatan literasi

Guru sebagai insan intelektual, sudah seharusnya tidak boleh jauh dari kegiatan belajar, dan kegiatan meng-upgrade ilmu kependidikan. Saat sudah menjadi guru bukan berarti tugas belajar selesai, karena ilmu itu sangat dinamis. Setiap saat mengalami perkembangan. Jika guru yang note bene adalah salah satu agen ilmu bagi siswa, maka suatu hal wajib bagi guru untuk terus belajar. Belajar tidak harus secara formal, namun bisa secara mandiri dilakukan, banyak membaca berbagai literatur dan kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan yang bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Sehingga  dapat disampaikan bahwa guru dan kegiatan literasi harus berjalan beriringan.

Bagimana dengan kegiatan menulis?

Menulis adalah salah satu aktivitas yang dapat membentuk karakter guru sebagai bagian insan cendikia. Karena untuk bisa menulis seeorang harus mau banyak membaca banyak buku atau literatur. Membaca dan menulis dua hal yang tidak bisa dipisahkan, untuk bisa menulis maka penulis harus banyak membaca.

Dengan kegiatan menulis banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh seorang guru, diantaranya menulis merangsang otak untuk selalu aktif berfikir (olah raga otak) sehingga bisa menghindarkan dari kepikunan dini,  dengan menulis seseorang bisa menuangkan perasaannya atau kegundahan hatinya (sarana mengekspresikan diri), hal ini menghindarkan seseorang dari depresi. Satu ha yang tidak dipungkiri adalah menulis memberikan nilai tambah bagi penulisnya (branding).  Sehingga secara tidak langsung guru bisa menjadikan dirinya tauladan bagi siswanya dalam melaksanakan kegiatan liteasi sekolah. Guru tidak hanya bisa menyuruh murid membuat karya tulis, namun guru mampu menghadirkan dirinya bahwa ia bisa menghasilkan karya. Dan bagi yang memiliki hobby bisnis dan marketing maka menulis bisa dijadikan sebagai pasive income, dengan menjual atau memasarkan buku atau tulisan karyanya.

Sehingga sesungguhnya kegiatan menulis yang dilakukan oleh guru adalah salah satu cara guru meningkatkan kompetensinya. Menulis menuntut guru untuk belajar dan banyak membaca, dengan banyak membaca maka wawasan guru akan semakin meningkat. Dan aktivitas menulis  memerlukan kemampuan untuk berfikis logis dan sistematis, selain itu kemampuan menyampaikan ide atau gagasan selalu terasah dengan baik.

Mungkin bagi Anda ada yang bingung dari mana harus memulai, atau mau nulis apa?

Sedikit sharing dari apa yang pernah penulis lalui. Ketika Anda sudah memiliki keinginan menulis, segera lakukan tidak usah menunggu nanti, besok atau minggu depan. Segera tulis ide yang muncul saat itu ke buku atau notes yang ada di android, jangan biarkan ide itu hilang begitu saja. Ide bisa muncul di mana saja, kapan saja. Dari mana menulisnya? Ya, bisa dari mana saja. Tulis saja apa yang ada dipikiran Anda dan jangan berhenti hingga ide yang ada di kepala terkuras tuntas, setelah itu baru bacalah apa yang sudah Anda tulis. Bagi Anda yang baru memulainya jangan berkecil hati jika mendapati tulisannya belum bagus. Semua butuh proses dan latihan berulang kali.

Ide tulisan bisa bersumber dari mana saja. Dan menurut penulis, yang paling mudah untuk dijadikan sebuah tulisan adalah hal-hal yang paling dekat dengan diri kita, dan apa yang kita kuasai.

Jadi, tunggu apa lagi Bapak/Ibu guru? Ayo ..., selagi ada waktu luang, gerakkan pena Anda, rangkaikan huruf demi huruf menjadi kata yang kemudian dijalin menjadi sebuah kalimat yang bermakna, yang mampu menggerakkan hati dan pikiran manusia lain, mengajak kepada kebaikan dan  peningkatan kualitas dirinya. Jangan biarkan ilmu dan pengalaman yang Anda miliki hanya mengendap begitu saja, berbagi ilmu melalui tulisan adalah suatu hal yang abadi. Seperti yang ungkapan yang disampaikan oleh Pramodya Ananta Toer bahwa, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidaak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis itu adalah pekerjaan keabadian”. (****)

 

(* Penulis adalah Guru BK di SMA Negeri 2 Katingan Hilir dan sebagai Anggota IGI Kabupaten Katingan)

Berita Terkait