Belajar Sistem Pendidikan dan Budaya Sekolah di Negeri Kanguru

Oleh: Yogyantoro*
 Minggu, Tanggal 29-07-2018, jam 12:58:25
Yogyantoro

BERAWAL dari pencetusan program belajar sepanjang hayat, yaitu belajar tidak hanya berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan formal, maka penulis tertarik mengikuti program yang gencar dicanangkan pemerintah belakangan ini.

Pemerintah tengah all out dengan program Guru Pembelajar yang sekarang berubah nama menjadi Program Diklat Guru 2018 sebagai sebuah tindak lanjut agar kompetensi guru tetap meningkat. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan salah satunya yaitu pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagai aktualisasi profesi pendidik.

Penulis adalah salah satu orang yang patut bersyukur karena beruntung berkesempatan untuk mengikuti school visit atau studi banding ke luar negeri selama 10 hari dari tanggal 2 Juni 2018 hingga 12 Juni 2018. Program ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia). PPI Dunia lahir melalui Konferensi International Pelajar Indonesia (KIPI) yang diadakan di Kampus University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia pada 9 September 2007.

Embrio utamanya diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) periode 2006-2008 yang mengangkat tema “Membangun Daya Saing Bangsa. Pulang atau Mengabdi dari Jauh.

PPI Dunia adalah jaringan global komunitas Indonesia di luar negeri yang saat pendeklarasian dilakukan oleh tujuh PPI negara seperti Malaysia, Jepang, India, Italia, Mesir, Belanda dan Australia. Partner dari PPI Dunia di antaranya adalah Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia), Ristekdikti (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia), Kemenpar (Kementerian Pariwisata Republik Indonesia), JawaPos.com, Net., MNC TV, Shoopee dan Kompas.com.

Setelah mengikuti serangkaian tes atau seleksi administrasi dan wawancara yang diikuti oleh guru-guru di seluruh Indonesia, penulis terpilih untuk negara tujuan Australia tepatnya di kota Melbourne, negara bagian Victoria. Ada delapan teman guru (fellow teacher) yang diberangkatkan ke beberapa negara tujuan lain seperti Malaysia, Singapura, Tiongkok, dan Jepang. Penulis berkesempatan untuk mengunjungi sebuah sekolah yaitu Bacchus Marsh Grammar Inc yang berlokasi di Sth Maddingley RD/ Bacchus Marsh, Melbourne, Australia.

Banyak hal yang bisa penulis pelajari selama kunjungan atau studi banding di sekolah tersebut. Penulis berkesempatan melakukan observasi tentang rutinitas harian di sekolah, bagaimana guru-guru di sekolah tersebut mengembangkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau lesson plan, pedagogik, classroom assessment (sistem penilaian), dan melaksanakan kegiatan micro teaching di kelas.

Sekolah-sekolah di Australia sangat memerhatikan Child Protection Program (Program Perlindungan Anak). Mereka memiliki prescriptive legal (hukum preskriptif) dan peraturan yang kokoh dalam mencegah child abuse (penganiayaan terhadap anak), family violence atau KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), pelecehan seksual, dan kekerasan verbal maupun fisik. Hubungan personal dan pelatihan tentang perlindungan anak anak sangat diutamakan.

Pendidikan karakter begitu membumi di lingkungan sekolah ini. Mereka benar-benar menanamkan sikap (attitude) dan mental yang baik sebagai ruh dalam pendidikan seperti saling memberi dan meminta maaf (forgiveness), membiasakan diri mengucapkan terima kasih (gratitude), teguh dalam penanaman kepercayaan (believe), iman (faith), mimpi dan imajinasi, kasih sayang (compassion) , persahabatan, kekeluargaan dan toleransi,

Selain itu peran guru BK (Bimbingan Konseling) sangat dominan dalam memberikan consulting career. Peserta didik dikawal sejak dini untuk menemukan bakat mereka sejak dini untuk dipetakan sesuai potensinya masing-masing. Ada 14 pembagian bidang bakat dan minat untuk memetakan bakat dan minat mereka yaitu: komputer (computing), kesehatan (health), matematika (maths), bahasa inggris (english), sejarah (history), retail , outdoor education, geografi, community service, bisnis, sastra, ekonomi, studi pedesaan, dan media studies.

Studi banding di salah satu sekolah di Victoria yang termashur dengan nomor plate slogan "Victorian the place to be" ini penulis semakin dibuat takjub dengan antusias murid-murid di Bacchus Marsh Grammar dalam mempelajari Bahasa Indonesia. Ini tidak lain juga trigger dari sebuah organisasi guru Bahasa Indonesia terbesar di Australia (VILTA).

VILTA (Victorian Indonesia Language Teacher Association) semakin bertengger kuat mendukung kurikulum nasional pemerintah Australia yang memang memasukkan Bahasa Indonesia kedalam kurikulum nasional. Di seluruh Victoria, kini sudah ada 254 sekolah negeri dan 67 sekolah swasta yang memberikan materi atau mengajarkan Bahasa Indonesia.

Betul-betul tidak menyangka jika Bahasa Indonesia begitu dikuasai oleh beberapa murid di Bacchus Marsh Grammar yang merupakan sekolah yang berdiri di salah satu negara bagian Australia, Victoria. Bahasa Indonesia menjadi bagian penting memposisikan eksistensinya dalam VCE (Victorian Certificate of Education) di Australia. VCE adalah ijazah sekolah menengah atas yang didalamnya terkandung komponen--komponen kurikulum umum.

Bacchus Marsh Grammar yang berdiri tahun 1988 yang telah terkenal dengan pendekatannya yang begitu holistik terhadap dunia pendidikan. Sekolah ini begitu memperhatikan pengembangan akademik, pengembangan diri , penghargaan terhadap perbedaan

Kegiatan ekstra kurikuler  diselenggarakan dari pukul 3 sore hingga 4 sore pada hari Senin sampai Kamis. Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah desain pelatihan bagi murid-murid agar lebih kompetitif. Kegiatan-kegiatan seperti; netball, senam (calisthenics), bersepeda, triathlon, equistrian dan seni bela diri dilaksanakan untuk melatih siswa berkompetisi. Weekend event kemudian diselenggarakan dan bisa diikuti oleh murid-murid bersama orang tua mereka.

Ekstra-kurikuler Olah Raga adalah  bentuk co-curricular program ini terbuka untuk semua siswa dari Prep sampai kelas VI. Program ini diselenggarakan dari pukul 3 sore hingga pukul 4:30 sore. Biaya yang dikenakan untuk mengikuti extra kurikuler olah raga yaitu $25 tiap murid /term. Salah satu alat komunikasi yang utama di lingkungan sekolah adalah buletin harian. Buletin harian bisa diakses setiap hari diawal jam sekolah dan disampaikan secara langsung pada kelas perwalian (tutor group).

Berbeda dengan buletin harian,  Grammar Newsletter dikeluarkan pada setiap minggu. Newsletter di Bacchus Marsh Grammar school dipublikasikan di website sekolah setiap rabu sore. Orang tua atau wali murid sangat dianjurkan untuk berlangganan Grammar Weekly melalui website sekolah.  Harmonisasi yang indah antara keluarga dan sekolah dalam mendukung program-program pendidikan begitu nampak. ***

 

(* Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh. Peserta studi banding negara tujuan Australia)

Berita Terkait