Eksodus dari Jawa Demi Dagang Bendera Musiman di Kalimantan

 Minggu, Tanggal 29-07-2018, jam 07:30:11
Jeri, pedagang bendera musiman yang menggelar dagangannya di kawasan Jalan Batu Batanggui, Kabupaten Lamandau. (RUSLAN/KALTENG POS)

Pemuda berusia 23 tahun itu, duduk manis di Poskamling yang terletak di kawasan Jalan Batu Batanggui, Kabupaten Lamandau. Wajah penuh harap menantikan setiap pengendara yang melintas, tertarik dan membeli dagangannya.

RUSLAN, Nanga Bulik

JERI, lelaki itu punya nama, merupakan satu dari sekian banyak warga dari pulau Jawa yang mencari peruntungan di Kalimantan dengan berdagang bendera musiman di sejumlah ruas jalan kota jelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus tiba.

Mereka biasanya datang secara berkelompok dan berangkat ke sejumlah wilayah di Indonesia untuk berjualan bendera. Sekali berangkat, rombongan pedagang musiman ini terdiri dari dua sampai orang per kelompok dan menyebar di pusat kota dengan membawa stok bendera sebayak 24 kodi per orang.

Biasanya kelompok pedagang musiman datang satu bulan sebelum tanggal 17 Agustus, mereka menyewa rumah untuk tinggal selama sebulan di daerah tujuan masing-masing.

"Selama sebulan ngontrak rumah, biayanya semua ditanggung bos, termasuk uang makan sehari-hari dan uang rokok," kata Jeri saat dijumpai Kalteng Pos di tempatnya berjualan, Rabu (25/7).

Jeri mengaku, untuk di Kabupaten Lamandau hanya ada dua orang, yang berjualan bendera dari pulau Jawa. Ia dan temannya merupakan satu rombongan dari 9 orang yang berangkat ke Kalteng menggunakaan kapal laut, yang berjualan bendera terbagi dari Kabupaten Kotawaringin Barat, Lamandau, dan Kota Palangka Raya.

"Yang banyak teman-teman ke Pangkalan Bun (Kobar) karena jualan di sana cepat laku. Termasuk juga di wilayah Kecamatan Kumai, karena kapal turun dari sana," katanya menjelaskan.

Ia menyebut, harga bendera yang dijual beragam, mulai dari Rp15 ribu per buah hingga yang paling mahal seharga Rp500 ribu dengan ukuran panjang 10 meter dengan motif gambar burung garuda.

"Kalau untuk dipasang di motor dijual seharga Rp15 ribu per buah, umbul-umbul Rp35 ribu, dan yang paling mahal harga Rp500 ribu untuk ukuran yang 10 meter," kata pria kelahiran Garut, Jawa Barat tersebut.

Jeri mengaku ia tidak mengambil keuntungan dari harga penjualan bendera, karena mereka hanya digaji untuk berjualan bendara dan ditanggung selama berjualan di daerah termasuk biaya tiket kapal selama berdagang. Sedangkan untuk bendera disiapkan oleh bos mereka.

Tahun 2018 merupakan kali ketiga bagi Jeri, menjadi pedagang musiman penjual bendera pada momen hari Proklamasi 17 Agustus. Tahun lalu, ia sudah pernah berjualan bendera di Lampung, dan kali ini ditugaskan untuk berjualan di Kabupaten Lamandau.

"Tahun ini berbeda, tidak seperti tahun dulu waktu saya jualan di Lampung. Kalau dulu tanggal segini sudah ramai pembeli bendera, kalau sekarang masih sepi," pungkasnya. (*/uyi/ctk/nto)

Berita Terkait