Infrastruktur Pendidikan yang Termakan Usia (1)

Tiap Hari Dag Dig Dug, Setiap Saat Murid di SD Ini Takut Sekolahnya Ambruk

Infrastruktur Pendidikan yang Termakan Usia (1)
 Jum`at, Tanggal 03-08-2018, jam 05:14:41
REOT: Keadaan gedung sekolah SDN 1 Pantai, Kecamatan Kapuas Barat memprihatinkan. Sejauh ini, belum ada upaya perbaikan. (APRIANDO/KALTENG POS)

Sekolah menjadi rumah kedua bagi generasi penerus bangsa. Menimba ilmu untuk menggapai cita-cita. Sekolah harusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman. Bukan sebaliknya. 

APRIANDO, Kapuas

KEADAAN tidak menjadi penghalang murid-murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Pantai, Kecamatan Kapuas Barat. Mereka masih ingin menuntut ilmu. Meski fasilitas seadanya. Bangunan sekolah yang telah uzur. Tak masalah bagi mereka. Masih menunjukkan wajah ceria. Tawa. Serius ketika menerima pelajaran dari guru.

Begitulah yang terlihat ketika wartawan (penulis) Kalteng Pos berkunjung ke sana, pekan lalu. Jarak ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari Kuala Kapuas, ibu kota Kabupaten Kapuas. Melewati jalur darat dan menyeberangi Sungai Kapuas, melalui penyeberangan di Mandomai.

Setiba di sana, penulis mendapat sapaan hangat dari sekretaris desa (Sekdes) yang akrab disapa Ade. Tidak sempat menanyakan nama panjangnya.

“Beruntung kalian datang lebih pagi. Saya sudah persiapan, mau pergi berkebun,” ucapnya.

Sejurus kemudian, menemani ke sekolah, yang jaraknya 100 meter dari rumah. Berjalan kaki. Lewat jalan alternatif. Jalan setapak yang becek. Sekolah itu terlihat seperti gubuk, jika dilihat dari batas belakang rumah sekdes.

Semakin mendekat. Semakin terdengar riuh murid yang bermain di tanah lapang. Ada yang bermain sepak bola. Ada yang baris-berbaris. Ada juga yang hanya sekadar penghibur dan  menonton. Setibanya di sekolah, Utasman, Kepala Sekolah (Kasek) SDN 1 Pantai dan beberapa guru, memberikan senyuman hangat.

“Silakan masuk (ke ruangan, red) mas,” ucapnya, sambil berjabat tangan dengan penulis. Kami pun masuk ke ruangan yang juga difungsikan sebagai perpustakaan.

Utasman mengatakan, sekolah tersebut berdiri sudah cukup lama. Puluhan tahun. Saking lamanya,  tidak tercatat di profil sekolah. Kini, bangunan hampir roboh. Tiga ruangan kondisinya parah. Hanya ruang kelas V dan IV yang tak begitu mengkhawatirkan. Karena telah direnovasi pada tahun 2000 silam. Renovasi pertama, dilakukan tahun 1983, untuk semua ruangan.

Belajar di bangunan yang rawan roboh, lanjut Utasman, adalah hal yang mengkhawatirkan. Tidak ada solusi lain. Terpaksa. Untungnya, kini tak ada lagi kebocoran. Dua tahun sebelumnya, atap sirap telah diganti dengan atap seng.

“Terakhir direnovasi, sekitar 35 tahun yang lalu. Itu menurut keterangan para guru, dan juga sepengetahuan saya sendiri sebagai warga yang tinggal di sini. Walaupun baru dua tahun menjabat sebagai kepala sekolah di sini” katanya.

Penulis menyempatkan untuk melihat kondisi bangunan. Kerusakan terlihat pada lantai. Banyak lubang. Beberapa tiang penopang bangunan, tak ada paku yang menempel.

Ada enam ruangan. Fasilitas yang ada di dalamnya cukup memadai. Buku pelajaran tersusun rapi di rak buku perpustakaan. Di ruang guru, beberapa kursi rusak teronggok di sudut ruangan.

Kelas I dan II merupakan ruang belajar yang paling tidak memadai. Banyak lubang di dinding. Lantai mulai rapuh. Bisa menyebabkan kecelakaan, jika murid-murid tak berhati-hati. Bisa terperosok. Atap di bagian luar ruangan sudah tak berbentuk. Toilet tak berfungsi.

Sementara itu, salah satu guru, Linda mengatakan, proses belajar mengajar yang paling dikhawatirkan, ketika diguyur hujan deras dan angin kencang. Murid-murid takut bangunan roboh.

Kalau dibilang mengganggu, sudah pasti. Tidak ada kenyamanan dalam belajar mengajar. Tapi, sebagai guru, sudah menjadi kewajiban untuk terus memberi semangat dan mentransfer ilmu dengan sebaik-baiknya.

 “Secara pribadi, harapan ke depan, semoga pemerintah lebih bisa memerhatikan sekolah ini, karena benar-benar membutuhkan bantuan. Dengan begitu, proses belajar mengajar akan lebih terasa aman dan nyaman” ungkap perempuan yang sudah mengajar sekitar 35 tahun di sekolah tersebut.

Salah satu orang tua murid, Fitriani mengaku prihatin dengan gedung sekolah tempat anaknya menimba ilmu. Tapi, ia tak bisa berbuat banyak. Tak ada pilihan lain. Tetap menyekolahkan anaknya di situ. Masih di bangku kelas I.

Dirinya hanya dirundung ketakutan, jika memasuki musim hujan. Apalagi disertai angin kencang. Jantung dag dig dug, takut bangunan ambruk.

“Kasihan juga mas. Saat hujan deras, saya harus membawa anak saya pergi ke tempat lain, takut bangunannya roboh” katanya. (ce/ram/ctk/nto)

Berita Terkait