Infrastruktur Pendidikan yang Termakan Usia (2/Habis)

Pernah Dua Kali Ajukan Proposal, Hanya Mendapatkan Jawaban akan Segera Diperbaiki

 Sabtu, Tanggal 04-08-2018, jam 06:34:36
Suasana belajar mengajar di ruang kelas I. Masih ada beberapa murid yang tak memakai sepatu. (APRIANDO/KALTENG POS)

Bangunan-bangunan sekolah di perkotaan begitu rancak dipandang. Tapi tidak untuk di wilayah pinggiran. Apalagi yang ada di perdesaan. Bisa dibilang memprihatinkan.

APRIANDO, Kapuas

“SUDAH pernah masuk proposal dan diterima, tetapi….,” ungkap Sekretaris Desa (Sekdes) Pantai, Ade kepada penulis.

Tahun 2016, sambung Ade, sudah mengajukan. Begitu pula tahun 2017. Eh, ternyata ketika Musrembang di kecamatan, dicari nama SDN 1 Pantai, tidak ada.

SD lain sudah bagus. mendapatkan dana. Tetapi SDN 1 Pantai yang kondisinya parah, malah tidak. Jawaban dari pemerintah daerah, siap. Secepatnya. Tetapi, buktinya tidak ada.

“Saya berharap secepatnya dilakukan perbaikan, agar murid-murid dapat merasakan kenyamanan daalam proses belajar mengajar,” harapnya.

Hal itu ditegaskan lagi oleh Kepala sekolah (Kasek) SDN 1 Pantai, Utasman. Dikatakannya, sekolah yang dipimpinnya pernah mengajukan perbaikan ke pemerintah. Dua tahun menjadi kasek, dua kali mengajukan. Proposal yang diajukan, dilampirkan dengan bukti kerusakan. Janji itu ada. Lalu, hilang dan tanpa kabar. Hanya mendapatkan jawaban akan segera diperbaiki.

“Pernah ada tim yang dating melakukan survei. Mereka memastikan bahwa akan segera dilakukan perbaikan. Tetapi, ternyata hanya sekadar janji belaka, tanpa ada kabar lagi,” ungkapnya.

 

Pria berkumis tersebut menerangkan, setiap triwulan selalu menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana tersebut, kebanyakan dipakai untuk operasional sekolah. Jika ada kelebihannya, diperuntukkan membeli tambahan buku, dan kegiatan-kegiatan yang bersifat untuk murid. Sebagiannya lagi, untuk membayar gaji tiga guru honorer.

Jika bangunan sekolah belum mendapat perhatian, lain halnya dengan murid-murid. Utasman membeberkan, ada bantuan dari program Indonesia Pintar. 40 lebih murid menerimanya. kelas I mendapatkan Rp225 ribu, dan kelas V mendapatkan Rp250 ribu.

Menurutnya, selama ini dana tersebut sangat membantu para orang tua murid. Setelah menerima dana tersebut, baju dan sepatu yang dahulunya kusam, diganti dengan yang baru. Meski, saat ini masih ada yang tak bersepatu.

“Ketika saya masuk dahulu (menjabat kepala sekolah, red), hampir rata-rata murid tidak memakai sepatu,” katanya.

 

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Kapuas, Ilham Anwar mengatakan, perbaikan yang tidak terealisasi sampai sekarang, dikarenakan terhambatnya anggaran yang ada.

“Itu (SDN 1 Pantai, red) sudah kami usulkan tahun depan, 2019 akan diusulkan untuk direhab. Karena tahun ini anggaran terbatas. Bukan hanya satu sekolah yang mengalami kerusakan, banyak yang lain,” ujarnya, Jumat (3/8).

Ilham membeberkan, sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan, tidak hanya satu. Ada  sekolah yang diprioritaskan untuk dilakukan pembangunan terlebih dahulu. Karena beberapa sekolah, kekurangan tempat atau ruang pembelajaran.

Pria berkacamata tersebut berkeinginan, agar seluruh sekolah yang ada di Kota Air, memiliki fasilitas pendidikan yang layak, demi memberikan keamanan dan kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Ia berharap, ke depan nantinya, jika anggaran yang ada sudah tersedia, sekolah tersebut siap untuk direhabilitasi.

“Mudah-mudahan tahun 2019 dapat terealisasi, dan dapat dilakukan rehab,” tutupnya. (ce/ram

Berita Terkait