Melihat Cara Pelukis Jebolan ISI Menyampaikan Kritik Kehidupan

Ketika Koruptor Terjebak dalam Buwu Bambu

 Minggu, Tanggal 05-08-2018, jam 07:39:47
Pengunjung menikmati pameran seni rupa tunggal Bataring karya Donny Paul di Taman Budaya Kalteng, Sabtu (28/7). Karya dalam pameran ini, lebih banyak mengisahkan tentang kehidupan dan kebhinnekaan. (HERMAWAN/ KALTENG POS)

Orang bijak bilang kehidupan bagaikan roda. Berputar. Posisi saat ini suatu saat akan berganti. Memaknai liku kehidupan dan falsafah batang garing, banyak ragamnya. Tujuannya, melestarikan dan mengikuti jejak leluhur.

HERMAWAN DP, Palangka Raya

PAMERAN seni rupa tunggal di gedung pameran seni, UPT Taman Budaya Kalteng, digelar lima hari sejak Sabtu (28/7) sampai Kamis (2/8). Berbagai goresan tangan Donny Paul, seorang praktisi seni Palangka Raya jebolan Institut Seni Indonesia, terpajang rapi penuh cerita dan inspirasi.

Bertemakan Batang Garing (Bataring), hampir seluruh karya yang dipajang mengisahkan tentang kehidupan; bersosial, bermasyarakat, bertetangga, berorganisasi dan segala macamnya.

Beberapa karya bersifat kritikan-kritikan. Salah satunya seperti karya bertajuk the evil manekin and trap, Buwu Bambu (alat tangkap ikan tradisional) berukuran tinggi orang dewasa yang didalamnya ada terjebak beberapa manekin. Buwu Bambu ini merupakan kritikan terhadap koruptor, pemerkosa, penjual narkoba dan orang jahat lainnya yang akhirnya dipenjara.

Kemudian ada karya berupa sapu yang tinggi menjulang ke atas, melambangkan kebhinnekaan, menggambarkan Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan bahasa tetapi tetap dalam satu kesatuan.

Sesuai dengan falsafah huma betang, merupakan wadah kebersamaan. Menunjukkan indahnya kebhinnekaan dan kebersamaan di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.

Ada pula karya menjelang punah, mengisahkan eksploitasi alam yang berlebihan. Tampak di sana Kepala Tingang (burung endemik Kalimantan) yang tenggelam di dalam ban.  Eksploitasi manusia dalam pemburuan burung Tingang. Banyak orang mengambil kepalanya sebagai properti begitu juga dengan bulunya.

Satu lagi yang unik adalah karya Sang Pemimpin, berupa gambar 3D yang memiliki dua sisi berbeda. Menampilkan gambar presiden Joko Widodo jika dilihat dari kiri dan wakil presiden Jusuf Kalla dari kanan. Begitu juga dengan lukisan gubernur dan wakil.

Donny sepertinya ingin menunjukkan jika kita ini dipimpin oleh dua orang dan bukan hanya satu. Mereka harus bisa bersatu menjadi pamongnya masyarakat.

Di sana dua karya yang mengisahkan lekatnya tradisi dan budaya terhadap kehidupan. Hal ini dituangkan dalam dua karya, yang kecapi dari paku dan juga lukisan batang garing yang dibuat menggunakan lilitan benang.

Kecapi dikenal sebagai masterpiece of music bagi suku dayak. Digunakan sebagai pengantar tidur, acara pernikahan, ritual dan berbagai macam kegiatan. Paku merupakan salah satu perkakas penting yang selalu ada di tiap rumah. Seperti itulah budaya dan tradisi yang tidak akan bisa kita tinggalkan.

Dari semua itu, terlihat dalam karya ini banyak sekali seni yang terbuat dari ban bekas. Si empunya karya, Donny Paul menjelaskan ban dipilih karena memang memiliki kisah yang hampir mirip dengan kehidupan manusia.

“Ban melambangkan perjalanan, ban juga memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Ban selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Sejalan dengan usia dan pejalanan ban lambat laun akan aus dan akhirnya diganti. Menandakan tak ada yang abadi seperti kita,” tutur pria kelahiran 3 Juli 1981 itu.

 Warga Jalan Christopel Mihing Palangka Raya ini mengatakan, dalam pameran terdapat sekitar 60 karya. Terdiri dari seni lukis, seni patung sampai seni instalasi. Semua itu dengan kisahnya masing-masing, tapi yang memiliki makna paling adalam adalah mobil Fiat tahun 1973 yang dicat penuh dengan doa.

Menurutnya, mobil memiliki hubungan erat dengan keselamatan. Lukisan doa juga melambangkan pentinya doa saat mengawali tiap kegiatan. Mobil tersebut juga merupakan karya yang paling lama masa pembuatannya. Dia membutuhkan waktu hamper 4 hari hanya untuk melukis mobil tersebut.

“Tapi yang paling susah dan menyakitkan adalah lukisan batang garing. Lukisannya terbuat dari benang yang diuntai ke paku. Harus copot pasang dan saat menguntainya jari banyak terluka karena terpentok paku yang rapat,” tutup Paul.

Terlihat di lokasi pameran, pengunjung paling banyak dari kalangan usia muda.

Mungkin karena memang kegiatan dilaksanakan saat akhir pekan, menjadi waktu yang tetap untuk berjalan bersama pasangan maupun keluarga. Pameran seni juga diisi dengan penampilan pengamen jalanan di panggung sisi kanan arah masuk. Mereka membawakan berbagai lagu klasik dan jazz instrumental. (*)

Berita Terkait