Polisi Amankan Barang Bukti 6.000 Butir Dextro dan 2.050 Zenith

Istri Mengandung Anak Pertama, Raja Koplo Sampit Diringkus

 Minggu, Tanggal 05-08-2018, jam 01:42:05
Kapolres Kotim AKBP Mohammad Rommel (tengah) saat manunjukan ribuan butir obat yang menjadi barang bukti dari tangan pelaku JM, pada gelar perkara, Jumat (3/8) lalu. (BAHTIAR/KALTENG POS)

SAMPIT – Sepak terjang JM (31) sebagai pemain (Bandar) besar dalam peredaran pil koplo jenis zenith dan dextro benar-benar terhenti. Tepatnya setelah petugas Satresnarkoba Polres Kotim berhasil meringkusnya, Jumat (3/8) sore.

Ironisnya, pria ini harus mendekam di penjara saat istrinya dalam kondisi mengandung anak pertamanya.

“Pelaku memang pemain besar kalau melihat dari uang dan keuntungan atau hasil penjualan hingga pembelinya ada dari Samuda,” ungkap Kapolres Kotim, AKBP Mohammad Rommel melalui Kasatresnarkoba, AKP Ronny Marthius Nababan, Sabtu (4/8).

(BACA JUGA: Takut Ketahuan, Sabu Sempat Dipindahkan ke Bakul Nasi)

Menurut Ronny, penjualan yang dilakukan pelaku tergolong laris.

Hal itulah yang menjadikan pelaku sebagai salah satu bandar besar. Hal itu dapat diketahui dari pembelinya yang berasal dari Samuda.

“Pembelinya sampai ada yang dari Samuda. Orang jauh tidak mungkin membeli barang sedikit-sedikit. Minimal dextro sebanyak 1.000 butir sekali beli,” ucap.

(BACA JUGA: Di rumah Mantan Vokalis Band Polisi Temukan Tujuh Paket Sabu)

Sementara dalam pengakuannya, JM menyebutkan jika pil kopli dia peroleh dari seseorang yang memang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Kotim.

“Pelaku kami amankan ditempat tongkrongannya, di pinggir jalan. Saat itu pelaku hendak melihat bangunan rumahnya,” ujar Ronny.

Dalam berita sebelumnya, JM diringkus bersama 6.000 butir dextro dan 2.050  zenith yang ditemukan dari dalam sepeda motornya di Kelurahan Baamang, Kecamatan Baamang, Jumat (3/8) sekitar pukul 16:00 WIB.

(BACA JUGA: Brondong Tua Bawa Kabur ABG 14 Tahun, Sempat Dua Kali Digituin)

Tidak hanya ribuan butir barang barang haram yang diamankan. Sebab Satresnarkoba juga menemukan barang bukti berupa uang hasil dari penjualan sekitar Rp45 juta lebih di dalam mobil.

“Untuk jaringan masih kami ungkap terus dan dikembangkan,” tandasnya.

Kini pelaku dijerat dengan pasal atau undang-undang tentang kesehatan dengan hukuman minimal enam tahun penjara atau maksimal 20 tahun hingga seumur hidup. (ais/ang/ctk/nto)

Berita Terkait