Kisah Kelam Pulau Bulan Madu

 Senin, Tanggal 06-08-2018, jam 09:58:03
Pulau Jeju (foto: net)

PULAU Jeju atau Jeju-do adalah salah satu tujuan wisata utama di Korea Selatan. Pendek kata, Jeju adalah salah satu surga bagi wisatawan, terutama yang sedang bermulan madu. Tetapi di balik itu, ada kisah kelam yang pernah terjadi disini.

Keindahan alam pulau ini khas. Ia terbentuk dari proses vulkanologi yang dimulai sekitar 2 juta tahun lalu. Berhenti sekitar 100 ribu tahun lalu dan menghasilkan antara lain Gunung Halla setinggi 1.900 meter di atas permukaan laut. Gunung Halla tercatat sebagai gunung tertinggi di selatan Korea.

Pulau berpenduduk 600 ribu jiwa itu kini dikunjungi tak kurang dari 15 juta wisatawan dari dalam dan luar negeri. Pemerintah memperkirakan jumlah wisatawan akan terus bertambah hingga 45 juta orang pada tahun 2035 mendatang.

Pemerintah juga tengah mempersiapkan pembangunan sebuah bandara baru di selatan Jeju-do. Sementara jumlah terminal di bandara yang sekarang ada di utara Jeju-do akan ditambah dalam waktu dekat.

Suhu udara yang cukup tinggi seperti mengikuti kami hingga ke Pulau Jeju. Musim panas tahun ini memang spesial bagi Seluruh Semenanjung Korea, bahkan Asia Timur.

Menurut Otoritas Meteorologi Korea (KMA) ini adalah musim panas dengan suhu tertinggi dalam catatan sejarah. Di belahan selatan Korea, hingga tulisan ini diturunkan, suhu tertinggi tercatat pada angka 41 Celcius. Dikatakan bahwa keadaan ini akan bertahan hingga akhir Agustus.

Jeju yang indah, hangat, pun terasa seperti tungku raksasa. 

Hari Minggu lalu (29/7) kami mengikuti Sunny Hong yang melangkahkan kakinya pali-pali atau cepat-cepat memasuki gedung museum itu. Payung kecil yang digunakannya seakan tak mampu menahan sinar matahari yang begitu terik di atas sana.

Pemilik nama lengkap Sang Hee Hong ini adalah pemandu kami dalam kunjungan ke Pulau Jeju kali ini.

Sejak di dalam bus, Sunny bercerita kepada saya tentang sebuah peristiwa di masa lalu di Pulau Jeju. Peristiwa berdarah, kejam dan kelam. Rasanya tak ada satu keluargapun di Pulau Jeju yang luput dari peristiwa itu.

Sebegitu pedih, hingga rasa-rasanya semua warga Jeju sepakat untuk melupakan, mengubur dan memendamnya dalam-dalam ke titik terjauh memori kolektif mereka.

“Untuk waktu yang cukup lama tidak ada kisah ini di buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah,” sambung Sunny.

Ada yang menyebut peristiwa itu sebagai pemberontakan (uprising) merujuk pada serangan yang dilakukan kelompok kiri atas belasan pos polisi di Jeju di tengah demontrasi mengenang penjajahan Jepang atas Korea pada tanggal 3 April 1948.

Mereka mengincar oknum polisi yang menurut mereka pernah menjadi kaki tangan Jepang. Sekitar 30 polisi tewas dalam serangan itu.

Kelompok kiri dimotori Partai Pekerja Korea Selatan (SKLP) yang merupakan hasil merger Partai Komunis Korea, Partai Baru Rakyat Korea, serta salah satu faksi di tubuh Partai Rakyat Korea.

Kelompok ini juga menolak rencana pemilihan umum yang akan diselenggarakan Pemerintahan Militer AS di Korea Selatan. Menurut mereka, pemilihan umum itu hanya akan melanggengkan pemisahan Semenanjung Korea.

Mereka menginginkan pemilihan umum digelar bersama dengan wilayah utara Korea.

Sementara bagi kelompok kiri, dan warga Jeju yang ikut “dibersihkan” kejadian tanggal 3 April itu, peristiwa ini adalah pembantaian (massacre).

Pemerintahan militer Amerika Serikat yang dipimpin Letjen John R. Hodge dan presiden pertama Korea Selatan Syngman Rhee memanfaatkan serangan kepada bekas kolaborator Jepang di tubuh kepolisian Jeju sebagai alasan untuk menggulung kelompok kiri yang pro Korea Utara.

Aktivis SKLP serta anggota masyarakat yang dinilai memiliki simpati pada partai itu diburu. Hingga November 1954, diperkirakan 30 ribu orang tewas tewas dalam “pembersihan” di seluruh Pulau Jeju.

Di dalam salah satu ruangan di dalam museum sebuah monumen diletakkan di atas sebuah altar. Berbentuk balok dari batu cor dalam ukuran besar, monumen itu diberi nama Monumen Tanpa Nama, untuk merefleksikan sejarah kelam di pulau bulan madu itu. Di satu sisi ia adalah pemberontakan, di sisi lain ia adalah pembantaian.

“Pulau Jeju yang terisolasi adalah penjara besar dan ladang pembantaian,” begitu tertulis pada sebuah dinding museum.

Beberapa ruangan memperlihatkan gambaran situs-situs pembantaian atas warga Jeju yang dicap sebagai simpatisan kelompok kiri. Misalnya, diorama yang memperlihatkan pembantaian di Gua Darangshi. Gua ini ditemukan 45 tahun setelah pembantaian.

Upaya untuk mengenang peristiwa 3 April pernah dilakukan seorang penulis Hyun Kiyoung. Pada tahun 1978 dia menulis sebuah novel berjudul Sun-i Samchon, atau Paman Suni, yang berlatar belakang kisah pembantaian di Pulau Jeju. Tak lama setelah menerbitkan buku itu, Hyun ditangkap dan sempat mengalami penyiksaan selama tiga hari sebelum dilepaskan.

Sikap pemerintah Korea Selatan mulai berubah di era Kim Daejung. Pada tahun 2000, Kim membentuk sebuah komite untuk mengusut pembantaian ini. Di tahun 2003, pengganti Kim, Roh Moohyun menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Jeju yang menjadi korban pembantaian.

Di bulan Maret 2008 Musium Jeju April 3 Peace Memorial Hall diresmikan. Namun setahun kemudian, museum itu kembali “dilupakan” seiring dengan kemenangan Lee Myungbak dari partai konservatif Saenuri dalam pemilihan presiden.

Museum 3 April kembali populer sekitar dua tahun lalu, setelah Moon Jaein dari Partai Demokrat memenangkan pemilihan presiden. Di era Roh Moohyun, Moon Jaein pernah menjabat sebagai Kepala Sekretaris Presiden. Dengan demikian, wajar apabila dia memiliki pandangan yang kurang lebih sama dengan penerusnya dalam sejumlah hal, termasuk kasus 3 April 1948.

Pemerintah kini tengah melanjutkan proses pencarian jasad atau kerangka korban pembantaian. (RMOL/nto)

Berita Terkait