Target Emas Cabor Bulutangkis Terancam Lepas

 Kamis, Tanggal 09-08-2018, jam 08:21:07
Legenda bulu tangkis Indonesia Susi Susanti (kanan) membawa api obor Asian Games 2018 Rabu (18/7). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JAKARTA - Cabang olahraga bulutangkis merupakan salah satu penyumbang medali emas yang paling diharapkan tuan rumah pada Asian Games XVIII/2018.  Tradisi medali emas sejak Olimpiade Barcelona 1992 yang sempat terputus pada Olimpiade London 2012 harus dirajut kembali.

Tapi di tengah optimisme merebut dua medali emas Asian Games mendapat peringatan keras dari Nanjing, Tiongkok.  Pada Kejuaraan Dunia 2018 yang berakhir Minggu (5/8), lalu  Indonesia pulang tanpa gelar. Jangankan emas, perak pun tak berhasil dibawa pulang.

Hasil maksimal hanya diraih pasangan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang merebut medali perunggu. Sementara ganda putra terbaik bangsa, pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Gideon Fernaldi hanya sampai di babak perempat final.

Hasil di Kejuaraan Dunia ini merupakan peringatan dari Nanjing. Bahwa kekuatan dunia bulutangkis kini berada di negara Jepang dan Tiongkok. Lihat saja, dari lima nomor pertandingan pada Kejuaraan Dunia, Tiongkok dan Jepang sama-sama menempatkan empat wakilnya di final. Dimana satu di antaranya masing-masing terjadi perang saudara.

Hanya satu finalis yang berasal dari luar negara Asia, yakni Carolina Marin dari Spanyol pada Kejuaraan Dunia tersebut. Di final Carolina menundukkan Pusarla V Sindhu dari India untuk meraih juara dunia.

Ironisnya, Korea dan Indonesia yang selama ini juga menjadi negara-negara yang selalu menempatkan wakilnya di final sama-sama terjerambab. Korea pun tidak menempatkan wakilnya di final.

Sinyal bahaya ini ditangkap dengan cermat oleh Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Susi Susanti. Menurut Susi, Indonesia harus waspada dan cepat melakukan introspeksi terhadap kegagalan Indonesia meraih gelar di Kejuaraan Dunia.

Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini menilai, pemain-pemain Indonesia mudah dikalahkan lawan, karena lawan sudah dapat membaca permainan para wakil merah putih. Termasuk kalahnya pasangan Kevin/Marcus di babak peremnpat final.

“Kita mengharapkan Kevin/Marcus dapat meraih medali emas di Kejuaraan Dunia 2018. Tetapi hasilnya meleset. Terlihat sekali kalau pola permainan Kevin/Marcus sudah mampu dibaca lawan,” kata Susi.

Selain itu, pengantin emas Olimpiade Barcelona 1992 bersama Alan Budikusuma ini menilai fisik pemain harus lebih ditingkatkan lagi untuk menghadapi Asian Games.  Ini penting, untuk mengantisipasi bila permainan harus disudahi dengan rubber games. Siapa yang siap, maka mereka lah yang akan keluar sebagai pemenang.

Tunggal putri Indonesia menjadi sorotan bagi banyak pihak. Prestasi yang tak kunjung datang semakin membuat Fitriani dan Gregoria Mariska bakal berat mengahadapi Asian Games 2018.

“Cara main mereka juga harus lebih konsisten, mereka punya modal, khususnya Gregoria,” sebut Minarti. Khusus fisik, Minarti menitikberatkan fokus untuk footwork para pemain yang harus lebih cekatan.

Terlebih lagi, lawan yang bakal dihadapi Fitriani dan Gregoria nanti merupakan top player dunia dari Asia. Akane Yamaguchi (Jepang), Chen Yufei (Tiongkok), Pusarla V. Sindhu (India), dan Ratchanok Intanon (Thailand) jelas menjadi lawan tangguh bagi mereka. (bam/jpg)

Berita Terkait