Selasa, Tanggal 13-03-2018, jam 08:55:05

Oaksara, Ngelapak Buku lalu Punguti Sampah di CFD

Share
Oaksara, Ngelapak Buku lalu Punguti Sampah di CFD
Pengunjung car free day di Kelurahan/Kecamatan Pare membaca di lapak buku yang digelar Komunitas Oaksara. (KOMUNITAS OAKSARA UNTUK RADAR KEDIRI)

WALAUPUN masih remaja dan rata-rata siswa SMA, anggota komunitas ini sadar pentingnya literasi bagi kehidupan. Berdiskusi dan membaca jadi agenda rutin. Namun selain itu, mereka pun bermisi menjaga lingkungan.

Meski hari Minggu, anak-anak usia SMA itu malah asyik berdiskusi di atas trotoar. Di acara car free day (CFD) Pare itu, mereka sekaligus melapak buku-buku yang bisa dibaca oleh umum. Makanya, sebagian tampak sibuk melayani pengunjung yang antusias membaca. Kumpulan anak-anak muda gemar membaca ini adalah Komunitas Oaksara.

Bila para pegiat literasi kebanyakan mahasiswa, di komunitas ini tidak ada anak-anak kuliahan. Mereka rata-rata masih seusia SMA. “Kebanyakan anggota kami ya seumuran SMA mas. Ada yang di SMAN 1 Plemahan, SMAN 1 Kandangan, hingga dari SMAN 1 Puncu,” terang Wanda Hamida, ketua Komunitas Oaksara ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Gadis yang juga siswa kelas XI Sosial-3 SMAN 1 Plemahan ini menerangkan, kegiatan rutin CFD setiap minggu itu memang melapak buku koleksi anggota Oaksara. Siapapun bisa membaca di tempat. Bahkan boleh meminjam.

“Kita ingin mempermudah akses warga Mas,” ungkap gadis asal Desa/Kecamatan Badas ini.

Demi mempermudah peminjaman, Wanda menerangkan, tidak mewajibkan memberi KTP sebagai jaminan. Namun cukup hanya mengisi nama, tanda tangan, tulis judul buku yang dipinjam, lalu menulis contact person. Semua orang bisa pinjam.

“Kalaupun sampai tidak ada contact person pula, peminjam kita foto saja sudah cukup,” ungkap gadis kelahiran 10 Maret 2001 ini.

Semula, pertemuan pertama mereka belum berniat membuat komunitas. Namun awalnya lantaran bersepakat menggalang dana untuk korban penggusuran proyek bandara di Kulonprogo, Jogjakarta. Saat itu, mereka ingin pergi ke sana untuk menyerahkan donasi. “Tapi dari kita ada yang pro dan kontra Mas. Karena kita masih SMA dan harus dapat restu orang tua,” kenang Wanda.

Maka niat ke sana pun urung. Dari situ, baru tebersit membentuk komunitas yang bisa jadi wadah berliterasi, seperti menggalang buku hingga berdiskusi berbagai problem.

Selain melakukan berbagai diskusi. Ternyata mereka yang masih SMA mendiskusikan terkait aktivis mahasiswa 1960-an Soe Hok Gie yang terkenal dengan bukunya berjudul Sang Demonstran itu. “Selain kita melapak buku dan mendiskusikan buku. Kita juga ada agenda seperti pungut sampah bersama,” ujar Muhammad Ikhwan, anggota Oaksara.

Siswa SMAN 1 Puncu ini menerangkan, pungut sampah itu biasanya setelah melapak. Lokasinya di setiap sudut CFD. Ini karena mereka tahu setelah CFD sampahnya menggunung. “Tetapi kegiatan pemungutan sampah ini belum secara maksimal kami jalankan,” ungkapnya.

BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 18 Sep 18


Minggu, 16-09-2018 : 01:15:29
Jeep Bukan Monopoli Kaum Adam

Mobil Jeep tidak selalu identik dengan kaum adam. Para wanita juga tidak dilarang mencintai mobil ini. Mereka-mereka yang mencintai mobi legendaris dari Amerika itu bergabung dalam sebuah komunitas ... Read More

Minggu, 16-09-2018 : 01:11:49
Berbagi Bekal untuk Calon Generasi Emas

SEBUAH grup chat dibuat secara khusus oleh Neny Rahmawati. Anggota grup chat tersebut adalah klien-kliennya di Griya Bunda Sehat Balikpapan. Grup chat itu dim ... Read More

Senin, 10-09-2018 : 11:37:46
Komunitas Pasar Lomba Menyeduh Kopi

KOPI semakin dicintai masyarakat. Seperti yang dilakukan para pecinta yang juga tergabung dalam komunitas kopi Santa, Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan berlomba menyeduh kopi sec ... Read More

Senin, 10-09-2018 : 11:36:17
Tarian Bercahaya Wotagei

BANYAK cara untuk mengekspresikan diri dan berlaku positif. Dengan memanfaatkan kemampuan menari, ditambah pernak-pernik lampu yang warna-warni, anak-anak muda kreatif di Kota Cant ... Read More