Minggu, Tanggal 18-03-2018, jam 08:25:42

Berani Memulai Swasembada Beras di Kalteng

Share
Berani Memulai Swasembada Beras di Kalteng
Oleh: Saiful Rohman, S.Pd.

MAHATMA Gandhi adalah seorang tokoh fenomenal India yang memulai gerakan swadeshi. Swadeshi artinya mampu meregulasi, memproduksi dan mengkonsumsi barang sendiri. Konsep swadeshi yang di inisiatori Mahatma Gandhi sejajar dengan semangat swasembada pangan yang digaungkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ditengah kunjungannya ke Lampung Timur pada 31 Desember 2017 yang lalu. Empat komoditas pangan menjadi target swasembada pada tahun 2018 yaitu beras, cabai, jagung, dan bawang.

Beras menjadi komoditas pangan yang paling dominan diperbincangkan dalam paket konsumsi harian masyarakat Indonesia. Ruang subtitusi untuk mengkonversi beras dengan bahan pangan yang lain terasa sempit. Mengingat, beras memiliki nilai rasa istimewa yang tidak dimiliki barang pangan penggantinya.

Beberapa daerah yang ada di Jawa dan Sumatra seringkali diiklankan sebagai lumbung beras nasional. Sementara, Kalimantan Tengah  identik dengan daerah tujuan perdagangan beras nasional. Ini adalah sebuah realitas (sekarang) yang tidak terbantahkan tetapi berpeluang untuk diputarbalikkan pada masa yang akan datang. Mengingat, lahan pertanian di Jawa dan Sumatera diperkirakan akan semakin sempit karena banyaknya lahan pertanian yang terkonversi menjadi rumah penduduk. Sebaliknya, potensi lahan untuk pertanian di  Kalimantan Tengah  masih sangat luas untuk masa yang akan datang karena jumlah penduduk Kalimantan Tengah masih sangat jarang dan sedikit dibanding luas wilayahnya.

Peluang sangat terbuka lebar ketika kita memulai dengan membaca data beras regional Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah memiliki 5 kabupaten yang berpeluang memiliki surplus beras  yaitu Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, Lamandau, dan Barito Timur. Dalam sebuah keterangan di media sosial, penulis pernah mendapati sebuah data surplus beras untuk tiga daerah yaitu Kapuas (surplus beras sebesar 158.199 ton), Pulang Pisau (surplus beras sebesar 21.824 ton), dan Katingan (7.968 ton). Adapun Lamandau dan Barito Timur tidak kami temukan data rinci, namun perbincangan dengan mitra diskusi dari PPL pertanian mengatakan daerah tersebut juga potensial untuk surplus beras. Berbasis data tersebut, setidaknya 3 daerah itu dapat melakukan upaya swasembada beras lebih awal dan menjadi pilot projek bagi daerah lainnya di Propinsi Kalimantan Tengah.

Regulasi daerah yang berpihak kepada petani merupakan salah satu upaya penting yang dapat dilakukan untuk mewujudkan swasembada beras. Regulasi yang berpihak kepada petani dapat berwujud  aturan penggunaan produk beras lokal untuk ASN daerah. Aturan tersebut dikhususkan ASN daerah karena tidak mungkin pemerintah daerah mampu mengatur penggunaan beras produk lokal kepada masyarakat luas. Jika aturan penggunaan beras produk lokal dipaksakan kepada masyarakat luas akan menimbulkan protes karena terdapat unsur pengekangan di dalamnya. 

Teknis pelaksanaan regulasi tersebut dapat dilakukan melalui proporsi tunjangan daerah atau tambahan penghasilan. Sebagian tunjangan daerah atau tambahan penghasilan ASN daerah dirupakan langsung dalam bentuk beras yang sudah dikemas dan berlabel beras khusus ASN daerah tersebut.

Penulis memprediksi konsumsi produk beras lokal untuk ASN daerah dapat menjadi awal terwujudnya swasembada beras di daerah tersebut.

Sementara, fakta yang terjadi sekarang adalah masih banyak ASN dilingkungan Kabupaten Katingan yang belum menjadikan beras produksi lokal sebagai makanan harian mereka.

Selanjutnya, regulasi tersebut harus diikuti dengan langkah intensifikasi, Ekstensifikasi dan standarisasi produksi beras. Intensifikasi produksi beras dapat dilakukan dengan penyediaan pupuk dan bibit unggul, penyuluhan dan pembinaan pertanian, serta bantuan mesin – mesin modern pertanian. Sebagai gambaran, seorang petani di Desa Jaya Makmur (Katingan) yang menggunakan bibit unggul hibrida mampu menghasilkan 6,67 ton gabah kering per hektar pada panen bulan maret ini. Sementara, penduduk yang menggunakan bibit biasa, hanya mampu menghasilkan 4-5 ton gabah kering per hektar. Munculnya mesin Combine Padi juga mampu mempercepat kegiatan panen, apabila secara manual satu hektar lahan padi bisa dipanen dalam waktu 2 hari, maka dengan menggunakan mesin tersebut hanya butuh waktu 1 jam per hektar. 

Langkah intensifikasi semacam ini mampu meningkatkan kuantitas hasil produksi dengan nilai efisiensi yang tinggi. Apalagi didukung dengan dicetaknya banyak lahan baru oleh pemerintah daerah, maka kuantitas hasil produksi beras lokal dipastikan akan semakin bertambah.

Bertambahnya kuantitas hasil produksi beras lokal saja tidak cukup, beras produk lokal juga harus memiliki kualitas yang baik. Caranya, dengan melakukan standarisasi produksi beras sehingga beras terjamin dari sisi kualitas. Ketika beras produksi lokal tidak  standar dari sisi kualitas, maka dipastikan regulasi beras ASN tidak dapat meluas ke unsur masyarakat yang lain. Sebaliknya, jika beras produk lokal memiliki standar kualitas yang baik, dipastikan banyak masyarakat luas secara sukarela akan menjatuhkan pilihan konsumsi harian mereka pada beras produksi lokal daerahnya. Karena disamping bernilai dari sisi kebutuhan pokok, juga memiliki nilai kecintaan produk lokal yang membanggakan dan memberikan kepuasan tambahan.

BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 18 Oct 18


Minggu, 23-09-2018 : 10:03:55
Menyikapi Kebebasan Berpendapat Sesuai UU ITE

UU Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, dalam pasal 1 menyebutkan, kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warg ... Read More

Minggu, 16-09-2018 : 10:19:05
Nio di Langit Biru yang Nio

Oleh: Dahlan Iskan

Namanya Nio. Tugasnya mengalahkan Tesla. Itulah ambisi Li Bin. Atau William Li. Atau Elon Musknya Tiongkok. Anak muda berumur 43 tahun. Dari Shanghai. Selasa (11/9) lal ... Read More

Sabtu, 15-09-2018 : 07:22:49
Membentuk Atlet Elit Sepak Bola Melalui Gala Siswa Indonesia

SIAPA sih yang tidak tahu dengan sepak bola? Ya, permainan beregu dengan 11 pemain di lapangan beradu cepat memasukkan bola di sebuah tiang kotak berukuran 2,44 meter x 7,32 meter. Hampir semua man ... Read More

Minggu, 09-09-2018 : 06:40:52
Boleh Berapa Pun Asal Stabil

Oleh: Dahlan Iskan

SEBENARNYA harga dolar boleh berapa saja. Asal stabil. Agar pengusaha bisa melakukan bisnisnya. Bisa bertransaksi. Menggerakkan ekonomi. Paling-paling kita malu: kok ru ... Read More