Sabtu, Tanggal 14-04-2018, jam 06:33:24

Alarm untuk Agen Pendidikan

Alarm untuk Agen Pendidikan
Oleh: Yogyantoro

Ada sebuah catatan penting dari pendidikan global dalam laporan World Development Report (WRF) tahun 2018 tentang pendidikan dengan judul Learning to Realize Education Promise. Bank Dunia mengungkapkan bahwa saat ini terjadi krisis pemelajaran yang terjadi di ruang-ruang kelas.

Pemelajaran yang seharusnya hidup di antara dinding-dinding kelas sedang surut karena guru yang dianggap sebagai faktor keberhasilan pemelajaran tidak terampil dan tidak termotivasi mengajar. Padahal, pendidikan dewasa ini dituntut untuk mampu menyiapkan tumbuhnya generasi milenial yang memiliki keterampilan abad XXI seperti produktif, kreatif, kritis, memiliki kompetensi sosial dan integritas moral. 

Kecerdasan moral sangat penting dibangun sejak dini. Lingkungan keluarga adalah wahana utama dan pertama untuk menempa karakter anak-anak agar menjadi manusia yang merdeka sekaligus peduli dan solider dengan sesama manusia.

Kata karakter semakin populer setelah pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud), Muhadjir Effendy  memastikan Program Penguatan Pendidikan Karakter (P3K) mulai dilaksanakan pada Tahun Ajaran 2017/2018.

Berbicara masalah karakter, maka tidak akan jauh dari masalah proses pelatihan, pembiasaan dan keteladanan. Dalam buku Mengenang Bung Hatta, I Wangsa Widjaja mengutip tulisan Bung Hatta (1954) tentang karakter. Bahwa seseorang boleh jenius atau berbakat, tetapi apabila tidak memiliki karakter sama saja dengan tidak mempunyai kemauan untuk membela bangsanya.

Pendidikan karakter diperlukan agar terbangun watak Pancasila bagi anak anak bangsa dalam wujud kesantunan, kebersamaan, nasionalis, mandiri, gotong-royong, integritas, kejujuran, solidaritas dan nilai-nilai budi pekerti lainnya. Pembentukan budi pekerti yang baik adalah tujuan utama yang harus dicapai terutama melalui pendidikan dalam keluarga.

Keluarga adalah Ibu Pendidikan

Keluarga sebagai lembaga sosial resmi yang minimal beranggotakan ayah, ibu dan anak adalah lahan subur untuk  menanamkan dasar-dasar pendidikan moral, pendidikan sosial dan  keagamaan. Keluarga juga bisa disebut sebagi badan sosial yang berfungsi untuk mengarahkan kehidupan afektif seseorang. Mengingat sebagian besar kehidupan anak adalah di dalam keluarga maka diperlukan kepemimpinan yang mumpuni dan keteladanan yang baik dari orang tua yaitu ayah dan ibu.

Peran keluarga terutama untuk anak-anak usia dini sungguh sangat berharga. Jika anak-anak secara konsisten dikenalkan dan dibiasakan menggunakan cara-cara yang sehat dan positif dalam menghadapi konflik atau situasi yang menantang, maka mereka akan berusaha meneladani dan memiliki kaca mata positif dalam memandang hidup.

Sebaliknya jika mereka terbiasa hidup di lingkungan yang penuh dengan cara-cara yang kasar, tidak produktif dan penuh dengan kekerasan, maka mereka pun akan terbiasa bereaksi yang negatif pula apabila dihadapkan pada situasi-situasi yang genting.

Kasus penganiayaan terhadap guru Ahmad Budi Cahyono (27) yang dilakukan siswa MH di Sampang, Madura hingga sang guru tewas menunjukkan adanya karakter anak yang tidak terkontrol dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disebabkan karena pola pengasuhan dan penanaman nilai yang utuh belum terbentuk dengan baik. Marta Santos Pais, Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB menguatkan bahwa anak yang berhadapan dengan hukum akibat melakukan tindakan pidana sejatinya merupakan korban kekerasan yang berlapis di lingkungan tempat ia dibesarkan dalam hal ini keluarga.

Lingkungan keluarga yang positif akan menjadi panduan yang bisa diikuti oleh anak-anak sehingga terbentuk konsep-konsep perilaku yang baik. Di dalam keluarga anak-anak belajar tentang kepercayaan, kesopanan, komunikasi yang efektif, penggunaan bahasa tubuh (gesture) maupun ekspresi wajah yang menyenangkan.  

Keluarga adalah tempat mereka dilahirkan dan  pertama kali proses sosialisasi terjadi yang memberikan kesempatan pada mereka untuk mempelajari tentang bagaimana dunia ini dan bagaimana dunia ini seharusnya.  Pintu gerbang utama pendidikan karakter terletak di dalam keluarga. Rose Mini, seorang pengajar Psikologi Pendidikan di Universitas Indonesia mengatakan bahwa ada tujuh hal dalam kecerdasan moral yakni empati, kontrol diri, nurani, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan. Kecerdasan moral itu perlu dikembangkan sejak anak usia dini melalui pendidikan dalam keluarga.

Pendidikan adalah seni. Seni itu terletak pada kepekaan orang tua dalam membaca dan memahami bakat, minat, emosi, orientasi serta perasaan sang anak. Banyak keluarga dengan latar belakang kehidupan yang sederhana dan tidak pernah mengenyam teori modern pendidikan malah mampu mendidik anak-anak mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang sukses dan memiliki karakter yang kuat.

Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan moral, karakter, mental dan spiritual anak sungguh sangat besar. Keteladanan orang tua dalam menanamkan karakter dan integritas adalah segala-galanya. Seseorang yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi namun lemah dalam karakter dan integritasnya akan menjadi monster yang mengerikan.

Masyarakat sebagai Mesin Penggerak

Masyarakat dan mutu sekolah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan karena salah satu prinsip dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah adanya partisipasi atau peran serta masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah atau pendidikan.

Sementara itu yang menjadi tantangan di depan mata kita saat ini adalah infiltrasi dan penetrasi budaya sekuler seperti hedonisme dan anarkisme di tengah-tengah masyarakat kita. Ini akan menjadi bumerang terhadap batasan-batasan perilaku luhur yang menjadi “kesadaran kolektif” di dalam masyarakat. Masyarakat yang anarkis dan tidak patuh pada seperangkat aturan dalam menata kehidupan bersama alih-alih bisa meningkatkan mutu pendidikan, masyarakat seperti ini bisa merobohkan bangunan-bangunan pendidikan.  

Dalam pendidikan, masyarakat adalah lingkungan ketiga setelah keluarga dan sekolah. Banyak sekali pendidikan yang bisa diperoleh seseorang dalam pergaulannya di masyarakat seperti dalam pembentukan sikap, perilaku, ilmu pengetahuan, minat, kebiasaan, keagamaan, maupun kesusilaan. 

Masyarakat Singapura contohnya, telah berhasil melembagakan budaya hidup bersih dan menjadikan praksis nilai kebersihan ini sebagai tradisi dan norma bersama. Apabila masyarakat telah memiliki budaya dan beradab dalam membangun, menjalani dan memaknai kehidupan maka pendidikan karakter berbasis komunitas atau masyarakat dapat berhasil dengan baik. 

Desain masyarakat madani yang mampu berpartisipasi seluas mungkin dalam mencetuskan ide yang kreatif dan inovatif dalam pengembangan pendidikan dapat dilakukan dengan memelihara nilai kultural dan moral di dalamnya.

Desentralisasi pendidikan membutuhkan partisipasi masyarakat. Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam meningkatkan mutu pendidikan baik dalam bentuk partisipasi kultural, evaluatif, material maupun finansial. Depniknas dalam bukunya

“Partisipasi Masyarakat” (2001: 22) menjelaskan peranan komite sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah diantaranya adalah melakukan pembinaan sikap dan perilaku siswa, meminta sekolah agar mengadakan pertemuan untuk kepentingan tertentu dan mencari sumber pendanaan untuk membantu siswa yang tidak mampu.

Pembentukan komite sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 044/U/ 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang dibentuk untuk menggantikan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3), didasarkan atas perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Sinergi dalam bentuk komunikasi antara orang tua, sekolah dan masyarakat jangan hanya berkisar tentang hasil belajar siswa melalui pencapaian akademiknya saja. Generasi unggul adalah generasi yang berkarakter sehingga memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan global.

Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2025 untuk menghasilkan insan cerdas dan kompetitif bisa tercapai melalui perbaikan karakter. Seorang tokoh utama aliran behaviorisme dan juga bapak psikologi modern, John B. Watson, mengatakan “Beri saya seribu bayi, dan saya akan jadikan mereka seribu manusia seperti yang Anda inginkan”. Betapa besar pengaruh lingkungan keluarga dan masyarakat terhadap perkembangan hidup seseorang. Salam siaga! (*)

*) Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh dan  alumnus Universitas Negeri Malang.


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 20 Aug 18


Minggu, 19-08-2018 : 06:13:27
Harapan di Balik Full Day School

“Tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreat ... Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 11:55:33
Membangun Kalteng Melalui Media Sosial

PEMBANGUNAN seyogyanya harus mampu bertransformasi dengan teknologi dan globalisasi. Kemajuan teknologi merupakan suatu hal yang tak bisa dihindari dalam kehidupan. Salah satunya teknologi digital ... Read More

Minggu, 12-08-2018 : 09:38:21
Kesadaran Petani terhadap Penggunaan Pestisida Alami

        Oleh  Dewi Ratnasari

       Penggunaan pestisida di lingkungan pertanian, ternyata menjadi momok bagi para penggun ... Read More

Sabtu, 11-08-2018 : 08:38:17
Dengan Hak Suara, Kini Kamilah Raja Diatas Raja

KINI saatnya kami berperan dan suara kami dibutuhkan sebagai kelangsungan berbangsa dan bernegara.

Sesungguhnya Keutuhan dan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indones ... Read More