Sabtu, Tanggal 17-02-2018, jam 07:07:45
Catatan Aortic Dissection (1)

Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung

Share
Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung
DAHLAN ISKAN

SAYA jatuh sakit lagi. Serius. Sangat serius. Akhir Desember lalu. Saat menjalani Umroh bersama keluarga. Pembuluh darah utama saya koyak. Koyakannya panjang sekali. Pembuluh utama yang disebut aorta itu diameternya 4 cm. Yang tugasnya mengalirkan dengan deras darah yang baru keluar dari jantung. Yang akan membawa darah ke seluruh badan: ke otak, ke lengan, ke organ-organ di sekitar perut dan ke seluruh bagian bawah badan.

Akibatnya, pasok darah ke perut, liver, ginjal, pankreas, dan kearah dua kaki saya terganggu berat. Bagian-bagian itu sakit semua. Hanya saja otak saya tidak terganggu. Saya masih bisa mikir. Apa yang harus saya lakukan. Semula saya tidak tahu kalau aorta saya koyak. Tahunya dada sakit, punggung sakit, tidak bisa bernafas, perut terasa penuh sesak, tidak bisa kentut dan tidak bisa pup.

Karena dada dan punggung sakit, saya mengira lagi kena serangan jantung. Sakitnya bukan main. Menyiksa. Nafas tersengal. Dada nyeri. Punggung sakit. Perut sesek. Tidak bisa kentut. Tidak bisa pup.Saat siksaan itu terjadi saya lagi tiduran di kamar hotel saya di Madinah, Arab Saudi. Lagi menunggu azan dzuhur yang masih lama. Tiba-tiba saja tidak bisa bernafas. Saya terpaksa bangun dan berdiri. Agar bisa bernafas. Itu pun harus dalam posisi wajah menengadah dan mulut terbuka. Dada nyeri. Punggung sakit. Perut sesak.

Saya kian berkesimpulan saya kena serangan jantung. Saya pun memberitahu istri bahwa saya kena serangan jantung. Sambil memukul-mukul dada yang nyeri. Dan wajah terus dalam posisi menengadah. Agar bisa bernafas meski sangat berat. Istri memberitahu anak-menantu di kamar lain. Secepat kilat seluruh keluarga sudah berkumpul di kamar saya. Panik. Saya tidak bisa bicara. Hanya terus nerocos yang kurang jelas bahwa saya kena serangan jantung. Cepat bawa ke dokter. Atau rumah sakit terdekat.

Istri saya terus menyiramkan sisa minyak kayu putih ke dada dan punggung saya. Azrul Ananda, anak saya, memapah saya menulusuri lorong menuju lift. Isna Fitriana, anak wedok saya, sibuk dengan handphonenya mencari hubungan dokter dan rumah sakit. Tatang, suami Isna, lari ke bawah mencari taksi. Ivo, istri Azrul menenangkan enam cucu yang ikut kumpul dan melongo semua.

Sepanjang dipapah di lorong menuju lift saya terus berusaha mengatakan bahwa saya kena serangan jantung. Sambil memukul-mukul dada. Maksud saya agar saya mendapat prioritas lift.

Tapi sopir taksi cukup baham kata-kata “I got heart attack” yang terus saya ucapkan secara darurat. Saya rasakan sang sopir lagi zig-zag. Menerobos lalu-lintas kota Madinah yang ramai. Bahkan saya lirik taksi ini memotong jalan. Melanggar aturan. Demi cepat mencapai rumah sakit. Dalam hati saya memuji keberanian sopir melanggar aturan itu.

Azrul memapah saya menuju UGD. Tatang membereskan taksi. Sepanjang dipapah menuju ruang UGD nafas saya masih tersengal. Hanya bisa bernafas dalam posisi wajah menengadah. Dan mulut membuka. Tapi, meski suara kurang jelas, saya terus mengucapkan kata-kata bahwa saya lagi kena serangan jantung. Agar perawat dan dokter di situ ambil perhatian serius.

Benar saja. Perawat bergegas membawakan kursi roda. Mendorong saya menuju ruang perawatan. Membaringkan saya di tempat tidur pemeriksaan. Tapi begitu berbaring saya terjunggit bangun. Saya tidak bisa bernafas dalam posisi berebah. Dokter langsung membuat tempat tidur itu dalam posisi tegak separo. Agar saya bisa diperiksa dalam posisi setengah duduk. Sambil nafas terus tersengal, wajah menengadah dan mulut terbuka.

Madinah lagi musim dingin. Udara kering. Bibir kering. Tenggorokan yang terus membuka ikut kering. Saya minta Azrul, yang terus memijiti punggung saya yang nyeri, untuk meneteskan air ke tenggorokan saya yang terus membuka. Setiap lima menit. Saya masih bisa berfikir tenggorokan itu bisa luka. Dan menimbulkan persoalan tersendiri.

BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 20 Sep 18


Minggu, 16-09-2018 : 10:19:05
Nio di Langit Biru yang Nio

Oleh: Dahlan Iskan

Namanya Nio. Tugasnya mengalahkan Tesla. Itulah ambisi Li Bin. Atau William Li. Atau Elon Musknya Tiongkok. Anak muda berumur 43 tahun. Dari Shanghai. Selasa (11/9) lal ... Read More

Sabtu, 15-09-2018 : 07:22:49
Membentuk Atlet Elit Sepak Bola Melalui Gala Siswa Indonesia

SIAPA sih yang tidak tahu dengan sepak bola? Ya, permainan beregu dengan 11 pemain di lapangan beradu cepat memasukkan bola di sebuah tiang kotak berukuran 2,44 meter x 7,32 meter. Hampir semua man ... Read More

Minggu, 09-09-2018 : 06:40:52
Boleh Berapa Pun Asal Stabil

Oleh: Dahlan Iskan

SEBENARNYA harga dolar boleh berapa saja. Asal stabil. Agar pengusaha bisa melakukan bisnisnya. Bisa bertransaksi. Menggerakkan ekonomi. Paling-paling kita malu: kok ru ... Read More

Minggu, 02-09-2018 : 10:19:06
Pengaruh Informasi Teknologi Terhadap Pertanian

BUKAN hal yang sulit lagi, pada zaman sekarang ini untuk mendapatkan suatu informasi baik itu kabar maupun berita atau hal-hal lain yang ingin kita ketahui. Karena sekarang ini inf ... Read More