Jum`at, Tanggal 04-05-2018, jam 01:55:37
Catatan Harian Manajemen

Adu Kuat Kereta Cepat

Share
Adu Kuat Kereta Cepat
Oleh: Dahlan Iskan

Jurusan San Fransisco – Los Angeles akan menjadi yang pertama: kereta cepat di Amerika. Kalau kuat doanya. Pembangunan fisiknya sudah dimulai: sejak tahun 2015 lalu. Berarti akan benar-benar jadi. Tidak seperti yang jurusan Las Vegas – Los Angeles. (disway tanggal 28 April 2018). Insya Allah.

Proyek dikerjakan. Selama dua tahun ini. Beberapa ruas sudah selesai. Tinggal banyak sekali ruas. Juga tinggal banyak sekali terowongan. Banyak protes. Banyak gugatan. Terutama dari penduduk yang dilewati.

Intinya: molornya tidak ketulungan. Hampir tidak bisa dipastikan kapan akan selesai. Semula diperkirakan tuntas tahun 2026. Lalu mundur menjadi 2029. Kini mundur lagi: 2033. Kalau saja benar-benar terwujud berarti pengerjaannya 18 tahun. Kalau dihitung sejak keputusan diambil: 25 tahun.

Dan itu bukan perkiraan terakhir. Na’udzubillahi min dzalik. Akibat kemoloran itu perkiraan biayanya pun berantakan. Awalnya diperkirakan Rp 500 triliun. Lalu membengkak jadi Rp 750 triliun. Kini membengkak lagi jadi Rp 1.000 triliun. Untuk jarak 840 km.

Badan Otorita Kereta Cepat California kini harus pula berurusan dengan politik. Akibat molor itu. Dan bengkaknya biaya itu. Dan berubah-ubahnya rencana. Dan pindah-pindahnya jalur. Dalam beberapa minggu ke depan parlemen California memanggil badan otorita. Dimintai keterangan. Soal biaya baru itu. Terutama bagaimana cara mendapatkannya. Harus ada persetujuan baru. Dari parlemen negara bagian California. Tanpa itu proyek tidak akan jalan.

Lho, kan sudah jalan? Benar.

Jalannya proyek ini tergantung termin. Istilahnya: pay as you go. Menggunakan dana yang ada dulu. Tidak ada kontrak menyeluruh. Kontraknya persegmen. Atau subsegmen. Tahun 1975, ketika Via Vallen belum lahir, pemerintah negara bagian California sudah bikin keputusan: menyediakan anggaran untuk study kelayakan. Waktu itu Deng Xiaoping baru mengumumkan Tiongkok harus keluar dari kemiskinan.

 

Pertanyaan di kartu suara saat itu: apakah setuju pemerintah negara bagian California cari utangan. Berbentuk obligasi. Sebesar USD 9,95 milyar. Sekitar Rp 120 triliun. Hasilnya: 53 persen setuju.

Suara setuju itu umumnya dari penduduk kota. Orang-orang di daerah menolak. Anggota partai Demokrat umumnya setuju. Partai Republik menolak. Tapi suara 53 persen cukup untuk memulai proyek kereta cepat ini. Apalagi Presiden Obama sangat mendukung. Pemerintah Federal memberi dana USD 3,5 miliar. Hampir Rp 40 triliun.

Dana awal ada. Kalau tidak digunakan akan hangus. Dimulailah proyek ini: pay as you go. Kini nasib proyek ini menjadi lebih tidak jelas: dari mana akan dapat dana tambahannya. Terus berubahnya angka membuat yang mau meminjami ragu.

BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 19 Oct 18


Kamis, 27-09-2018 : 07:14:29
Caci Maki di Forum Tertinggi

Turki akhirnya menyerah. Menyerah? Begitulah klaim Amerika. Pastor yang ditahan Turki akan segera dibebaskan. Mungkin bulan depan. Begitulah klaim Menlu Amerika  kemarin. ”Mestinya hari ... Read More

Rabu, 26-09-2018 : 07:29:22
Buku Jho Low dari Houston

Saya cemburu. Pada buku ini. Begitu bagusnya. Belum lagi membaca setengahnya tidak tahan untuk tidak menulis komentar tentangnya.

Target saya: begitu mendarat di Jakarta selesailah halama ... Read More

Selasa, 25-09-2018 : 08:31:57
Posisi Arogansi Bisa Dari Golongan Profesi

Inilah pelajaran dari Asia Sentinel. Untuk profesi wartawan. Atau profesi apa pun. Asia Sentinel tidak malu. Untuk minta maaf. Pada ‘korban’ tulisannya. Kali ini pada Presiden SBY. Juga ... Read More

Senin, 24-09-2018 : 09:04:40
Tragedi Prof Khaw dan Gas Bola Yoganya

Banyak sudah suami yang membunuh istri. Tapi yang dilakukan profesor ahli anestesi ini lain sekali.

Begitu ahlinya profesor ini. Hampir saja tidak terungkap sama sekali. Selama dua tahun ... Read More