Kamis, Tanggal 10-05-2018, jam 07:11:33
Kisah Operator Cantik HD di Tengah Belantara Borneo

Putri Asli Murung, Bertahun-tahun di Tambang

Putri Asli Murung, Bertahun-tahun di Tambang
Dump truck mampu mengangkut beban 40 ton sudah dioperasikan Nova selama empat tahun, di lokasi tambang PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Kelurahan Muara Tuhup, Kecamatan Laung Tuhup, Murung Raya, pekan lalu. (ROBY CAHYADI/KALTENG POS)

Di tengah belantara Kalimantan, terdapat lokasi pertambangan-pertambangan batu bara jenis coking coal. Tak disangka, pekerjaan berat itu mampu dipikul wanita-wanita cantik.

ROBY CAHYADI, Murung Raya

DEBU beterbangan menyelimuti fit tambang batu bara. Lubang curam berbentuk setengah lingkaran itu berada Kelurahan Muara Tuhup, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya.

Haul Dumptruck (HD) hilir mudik. Tapi tidak terdengar suara bising. Semua bergerak menurut rute yang telah ditentukan. Traktor raksasa juga sibuk mencengkeram isi bumi, lalu memuatnya ke HD. Lantas, HD bergerak menuju tempat penumpukan tanah di areal fit 8S PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT). Perusahaan pertambangan batu bara coking coal dengan kalori sembilan ribu lebih. Perusahaan yang menjadi pioner coking coal di Indonesia.

Penggalian mencari ‘emas hitam’ ini, operator HD kebanyakan didominasi laki-laki. Karena wanita sulit bekerja di tengah galian tambang yang sangat luas. Tapi, persepsi ini keliru. Ada tujuh perempuan belia memilih bekerja sebagai operator HD. Salah satunya Nova.

Gadis cantik 24 tahun ini asli putri kelahiran Murung Raya. Lulusan SMA Murung tersebut sudah empat tahun menjadi operator. Gajinya pun fantastis. Menembus angka Rp9 juta per bulan.  “Setelah lulus SMA, saya ikut seleksi operator HD di PT AKT,” ucapnya ketika berbincang-bincang dengan awak media, akhir pekan lalu.

Saat itu, ada 20 operator HD dari kaum hawa yang diterima. Namun, berangsur-angsur berkurang. Kini menyisakan tujuh orang. Di antaranya ada yang berparas cantik.  “Begitu menikah, mereka memilih berhenti,” ucap Akhmad Rifaldi, perwakilan PT AKT yang dibincangi wartawan. 

Kendati wanita, keahlian mereka tidak bisa diremehkan. Sarana raksasa di pertambangan yang memiliki bak terbuka ini, digunakan untuk memuat material tambang dan mampu beroperasi di medan berat.

Nova termasuk yang bertahan dengan pekerjaan ini. Jika terkena piket pagi, sudah sejak pukul 06.00 WIB Nova berangkat dari camp berjarak sekitar delapan kilometer dari titik galian.

Nova menghuni camp khusus wanita. Karena sistem tinggal di camp dipisah antara laki-laki dengan wanita. Banyak aturan di camp. Jika dilanggar, sanksinya adalah dikeluarkan dari perusahaan. Seperti berbuat asusila dan melakukan tindakan kekerasan.  “Tidak ada tolerasi terhadap perbuatan asusila dan kekerasan fisik,” tegas Rezky, perwakilan keamanan PT AKT.

Dengan begitu, keamanan Nova dan perempuan lain terjamin. Sistem kerja di areal galian selama 12 jam per hari. Baik siang maupun malam dibuat sama. Namun, makan pagi, siang, dan malam karyawan, semua ditanggung perusahaan.

Sebenarnya, ungkap Nova, pekerjaan sebagai operator HD bukanlah pilihan. Tapi, karena dirinya lulus training dan diterima, maka dia meneruskan pekerjaan itu. Bukan hal mudah mengemudikan truk raksasa ini. Kali pertama magang, Nova mengaku gugup. Tapi lama-lama terbiasa.

Medan yang dilalui terjal, terlebih menggali coking coal harus dalam. Karenanya, operator mesti berhati-hati, supaya HD tidak masuk ke dalam liang raksasa nan terjal. Nova sangat sedih ketika mendengar perusahaan tidak beroperasi. Karena banyak warga lokal menggantungkan hidupnya di PT AKT.

Menurut Rifaldi, karyawan PT AKT saat ini mencapai dua ribu orang. Mayoritas warga Kalteng.  “Kami memperhatikan betul gaji karyawan. Kami upayakan jangan sampai ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” ucapnya.

Pihaknya berharap, pemerintah memperhatikan warga agar mendapatkan pekerjaan. Jangan sampai menutup sebuah perusahaan tanpa mempertimbangkan kehidupan para karyawannya.

Memang, imbuh Rifaldi, saat harga batu bara anjlok, perusahaan mengalami kesulitan. Bertahan hidup saja sudah syukur. Dahulunya, PT AKT memang sangat terkenal. Memiliki karyawan hampir 4.000 orang. Ketika masa jaya itu, ruang makan pun penuh dengan karyawan.

Letak ruang makan berada di belakang Kantor PT AKT. Kantor perusahaan ini dapat terbilang terbesar di Indonesia. Bayangkan, kantor berlantai empat itu tergolong sangat mewah, berada di tengah hutan. Setiap lantai dulunya terisi dengan aktivitas karyawan. Kini hanya dua lantai yang dimanfaatkan. Tidak jauh dari kantor terdapat camp tempat tinggal seluruh karyawan. Sangat luas areal camp, dibuat seperti miniatur kota.

Produksi PT AKT saat ini masih rendah. Mereka bertahan untuk menghidupi karyawan dan membayar utang.  “Kami berharap dukungan pemerintah dan semua pihak agar operasional berjalan lancar, sehingga lebih banyak yang dapat kami lakukan untuk daerah,” ulasnya. (*/ce)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 18 Aug 18


Sabtu, 18-08-2018 : 11:59:39
Target Luki, Bisa Masuk Delapan Besar

Tidak seperti cabang olahraga (cabor) dayung dan panahan yang menargetkan medali emas dalam Asian Games 2018. Petenis meja Kalteng yang memperkuat Indonesia di ajang ini, Muhammad Luki Purkani tak ... Read More

Sabtu, 18-08-2018 : 07:54:10
Kelahiran Tak Terencana, Bingung Memberi Nama

Tidak semua pasangan suami istri (pasutri) yang beruntung, bisa dikaruniai anak bertepatan dengan momen Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Keberuntungan itu dirasaka ... Read More

Jum`at, 17-08-2018 : 09:27:33
Tingkatkan Sinergi dengan Pemerintah dan Pihak Berwajib untuk Membangun Bumi Tambun Bungai

Momentum Hari Kemerdekaan RI dan Hari Jadi DAD Kalteng, bersamaan. Diperingati sederhana. Penuh makna. DAD terus berupaya meningkatkan sinergi dengan pemerintah dan pihak berwajib. Caranya? Berikut ... Read More

Kamis, 16-08-2018 : 07:05:22
Ternak Nyamuk sebelum Membuat Pembasmi Nyamuk

Seringnya melihat buah bintaro jatuh dari pohon di jalanan, menggugah rasa penasaran dua pelajar SMPN 1 Sampit. Terlintas dalam pikiran, bagaimana memanfaatkannya. Tak tanggung-tanggung, dua pelaja ... Read More