Minggu, Tanggal 10-06-2018, jam 04:03:52

Membaca, Menulis, dan Berdiskusi

Membaca, Menulis, dan Berdiskusi
Para anggota Literasi Papadah Samarinda berkumpul. Mereka membawa buku kesukaan masing-masing, lalu mendiskusikan hal-hal terkait buku yang dibaca. (KALTIM POST)

SAAT melihat sebuah fenomena, seseorang dituntut bisa berpikir kritis untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Namun, minat baca yang kurang membuat banyak orang jadi apatis. Membangun budaya kritis memang tidak cukup dengan membaca, Anda juga perlu menulis dan berdiskusi. Di Komunitas Literasi Papadah Samarinda, orang-orang yang mencintai literasi bergabung dan sering mengadakan kegiatan yang bisa membangun budaya kritis tersebut.

Menurut Ketua Literasi Papadah Mahmuddin Bashar, saat ini ada 25 anggota yang bergabung dari berbagai latar belakang. Di komunitas tersebut, para anggota sering berdiskusi, berbagi sudut pandang, dan mencari pemahaman baru agar wawasan semakin luas.

"Dengan membaca, lalu menulis, serta mendisuksikannya, kami akan lebih cepat menangkap atau memahami inti dari bacaan. Diskusi juga membuat kami menambah gambaran baru dari berbagai pemahaman yang datang dari orang lain," ucapnya.

Banyak topik yang kerap mereka didiskusikan, mulai tentang ekonomi, politik, dinamika sosial, filsafat, bahkan gosip ibu-ibu kompleks yang membicarakan kejadian di sekitar. Selama berdiri, mereka juga sering membedah dan mendiskusikan buku karya Jostein Gaarder dunia shopie, dunia anna, misteri soliter, juga karya Michel Foucault tentang kegilaan dan peradaban, order of things.

"Tidak hanya itu, kami juga sering mendiskusikan buku dari berbagai genre. Mengingat, di dalam komunitas ini masing-masing orang punya genre bacaan yang disukai dan pasti akan kami diskusikan," ujar pria 24 tahun itu.

Beberapa di antaranya adalah Sapiens and Homo Deus karya Yuval Noah Harari, The Selfish Gene karya Richard Dawkins, Guns, Germs, and Steel karya Jared Diamond, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Madilog karya Tan Malaka, dan masih banyak lain lagi.

"Dengan banyak membaca kami jadi mendapat banyak pengetahuan, malah terkadang merasa pengetahuan yang dimiliki masih kurang. Namun, karena bertemu dengan orang yang punya hobi literasi, kami pun bisa bertukar materi, ide, dan pandangan," tegas dia.

Sebagian orang menganggap membaca sebagai hal kaku yang bersifat akademis, atau membaca hanya untuk orang-orang yang mempersiapkan diri menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, nyatanya tak begitu.

"Membaca itu penting, karena bisa menjadi senjata saat berdiskusi dengan orang lain. Apalagi, membaca, menulis, dan berdiskusi bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Jadi enggak ada alasan untuk tidak melakukan itu," tutup Anggit, salah satu anggota Literasi Papadah. (*/lia/*/ni/k9)


BERITA Terkait
Berita terkini Kalteng Pos Online 20 Aug 18


Minggu, 19-08-2018 : 09:14:35
KICP, Warna-warni Ikan Cupang

PENCINTA ikan tentunya sudah tak asing dengan ikan hias satu ini. Bentuknya mungil, gerakannya gemulai, namun warnanya menarik dan juga unik. Ikan Cupang dengan nama ilmiah Betta s ... Read More

Minggu, 12-08-2018 : 09:29:41
BLC Tambah Ilmu dan Teman

BERTEMAN dengan pehobi yang sama pastinya menyenangkan. Bahkan, berawal dari hobi, prestasi bisa tercapai tanpa batas usia. Punya banyak relasi serta kegiatan positif juga ter ... Read More

Minggu, 29-07-2018 : 09:13:48
Ini Dia Cara Mempertahankan Identitas Daerah

KECINTAAN terhadap seni dan budaya Kalteng bisa diterapkan melalui berbagai cara. Seperti sanggar Seni Budaya Tut Wuri Handayani (TWH) Palangka Raya. Wadah bagi generasi penerus be ... Read More

Minggu, 01-07-2018 : 07:48:40
Junjung Toleransi

KOMUNITAS Generasi Muda Pecinta Seni Kota Solo menggelar kegiatan pentas seni dan diskusi 'Yang Muda Yang Ikut Bela Negara'. Acara ini d ... Read More